Tentang RASA.



Ini tentang rasa yang tak terbalaskan.

rasa yang terus semakin menggebu-gebu setiap waktunya. Entah mengapa walau rasa ini tak terbalaskan, selalu ada harapan untuk memilikinya. 
Kecewa sudah pasti didapatkan, namun ketulusan cinta-lah yang akan membuat rasa kecewa itu menjadi sebuah kesabaran yang amat sangat dalam. 
Ketulusan cinta-lah yang membuat aku bertahan sejauh ini.  

Aku tak mungkin berharap sejauh ini, jika dulu kau tak membuka hatiku (lagi) yang dulu sempat tertutup rapat untukmu.
Jika, dikatakan kita adalah teman biasa, kurasa itu tidaklah tepat. Bahkan dengan sebutan sahabatan pun rasanya tidak tepat. 
Setelah banyak hal yang kita lalui, dan apa yang kita lakukan bersama. Ku kira, kau pun memiliki rasa yang sama, nyatanya tidak. 

Kenapa kau lakukan itu ? jika, tak bisa membuat harapan ini terwujudkan, setidaknya tak usah membangkitkan rasa itu kembali. Aku tak mungkin seperti ini, jika sedari dulu kau tak membuatku jatuh cinta kembali.

Aku bukan putri yang pandai riaskan diri, tapi aku mampu berimu janji tuk jadi pelangi saat hujanmu pergi.

Aku mengerti, kepergianmu untuk hal yang baik. Itu tak mengapa, tapi mengapa kau sekarang kembali dekat dengannya? Seakan – akan kesannya, kau munafik.
Aku tak mempermasalahkannya. Itu hak-mu. Berbuatlah sesukamu. 

kamu yang membuat aku mudah berharap karena kata-kata manismu dan juga perbuatan manismu.
Kamu juga yang mudah membuat aku sakit karena kepergianmu tanpa kata.

"Jika dirinya, membuatmu jatuh (lagi), kembalilah padaku. Aku masih sama dengan orang yang pernah kamu tinggalkan dulu."


--Dariku, sang pemilik rasa tak terbalaskan.

Komentar