Jauh darimu
Hai bagaimana dengan kabarmu? Kuharap kau selalu dalam
keadaan baik.
Sudah lama kita tak berjumpa dan bertegur sapa. Aku disini
masih dengan perasaan yang sama, tak berubah sesenti pun. Aku masih disini
menunggu dirimu kembali dalam dekapanku.
Kini, kita saling berjauh-jauhan. Seakan-akan kita seperti
orang yang tidak saling mengenal satu sama lain. Nyatanya, dulu kita saling
bersenda gurau bersama, saling melontarkan lelucon, dan menghabiskan waktu
bersama walau tak begitu sering.
Aku sangat ingin
menemuimu,diantara pergeseran angin atau di sela basah garis hujan.
Aku sangat ingin menemuimu diruang yang
disisakan embun atau disudut hati yang tak ada.
Aku sangat ingin
menemuimu di dalam bulat kornea mata.
Apakah kau tahu? Yang lebih dingin dari es adalah bibirmu
yang indah itu. Sebab, selalu saja beku saat aku bertanya apa arti aku?.
Sudah banyak hati yang aku jauhi, agar kamu mengerti bahwa
aku telah bertahan sekuat ini. tapi, mengapa kau setega ini? kau bukannya
menjawab, malah lantas pergi menjauh. Seakan –akan kepergianmu memaksaku untuk
melupakan dirimu. Melupakan orang yang
kau cinta itu seperti mengingat orang yang belum kamu temui.
Jauh darimu membuatku
memiliki kekuatan baru,
menciptakan bayang wajahmu
kapan pun itu,
memindahkan kenangan pada embun pagi, senja,
dan cahaya bulan,
serta membangun doa
doa paling menara.
Mungkin sudah takdir Tuhan seperti ini.
Rancangan Tuhan
kadang terlihat sangat kusut, namun dibalik itu semua tersembunyi sebuah
sulaman yang sangat indah.
Jika kau ingin kembali, kembalilah dengan benar tanpa pula
menghadirkan dan meninggalkan rasa sakit. Jangan lagi menghadirkan rindumu yang
tak bisa kumiliki.
--Dariku, yang masih menanti kedatanganmu kembali
Komentar
Posting Komentar